“The Interim is Mine”, Kitab Panduan Para Sultan

DIni bukan tentang kisah ‘penyapu jalan’. Melainkan bagaimana ‘membuat jalan’. New nomos. Peradaban baru. Masyarakat baru. Karena ‘penyapu jalan’, bisa bertendensi berada di jalan yang lama. Karena jalan kini berada pada kooptasi kebathilan. Dunia dilanda kemusyrikan yang menjadi sistem. Dari sanalah lahir riba, zina, sampai gharar yang dilegalilasi. Tak dibatasi lagi keharamannya. Manusia jamak meninggalkan fitrah. Spesies manusia berada dalam bencana. Pemusnahan massal. Bukan dengan bom, melainkan karena sistem yang merusak. Thomas Hobbes menyebutnya ‘homo homini lupus’. Manusia saling makan. Itulah masa modern, tatkala Nietzsche menyebutnya peradaban ‘the last man’. Dari situlah nihilisme berada.

Dostoevsky, dalam bukunya ‘Crime and Punishment’, disitulah tampak bagaimana nihilisme tertera. Nihilisme dalam manifestasi politik, itulah jiwa individu yang retak. Dalam kapitalisme, itulah disebut psikosis. Penyakit. Manusia yang tercerabut dari fitrahnya. Kerusakan jiwa itu terakibat dari komunitas yang tak sehat. “The Possessed”. Karena penyakit sosial. Sir Julian Huxley, cucunya TH Huxley, baron Inggris pendukung teori Darwin, menyebutkan tentang penurunan kualitas genetik manusia modern. Masa modern dimulai tatkala manusia, menurut bahasa Nietzsche telah ‘membunuh Tuhan’. Karena manusia meninggalkan aturan dari Tuhan. Dengan membuat aturan main sendiri. Revolusi Perancis, lahirnya ‘state’ menandai modernisme menjadi sistemik. Sir Juliah Huxley mengatakan, “mutasi yang merugikan jauh lebih banyak ketimbang mutasi yang menguntungkan,” katanya dalam ‘Brave New World’ yang mengulas tentang Darwinian. Tentu ini sebuah masalah. Problem besar etos sosial, yang sejatinya penghancuran.

Darwin pada tahun 1871 telah memperhatikan dilema tersebut. Dalam ‘The Descent of Man’, dia menulis:

 “Kita orang beradab melakukan yang terbaik untuk memeriksa proses eliminasi: kita membangun rumah sakit jiwa untuk orang dungu, cacat dan sakit: kami melembagakan hukum bagi orang-orang miskin, dan tenaga medis kita mengerahkan keterampilan terbaik mereka untuk menyelamatkan kehidupan semua orang hingga saat terakhir. Dengan demikian, anggota yang lemah pada masyarakat beradab menyebarkan jenisnya. Hal ini tidak diragukan lagi pasti sangat merugikan bagi ras manusia.”

Ini sebuah pengamatan matang. DR Ian Dallas mengungkap penghancuran etos sosial manusia modern itu. Torehan itu tertuang dalam kitabnya, “The Interim is Mine”. Ini buku luar biasa indah. Ditulis dengan gaya bahasa khas Dallas. Beliau adalah Shaykh Abdalqadir as sufi. Nama aslinya Ian Dallas, keturunan bangsawan Skotlandia: Dallas. Beliau menetap di Dallas House di Cape Town, South Africa.

Dalam ‘The Interim is Mine’, Dallas  mengupas habis bagaimana kesalahan manusia modern. Yang tercerabut dari akarnya: fitrah. Karena manusia memiliki fitrah. Fitrah manusia hanyalah menjadi hamba Allah Subhanahuwataala.  Y b yg Pencipta. Tapi manusia modern, lari dari fitrah. Itulah modernitas.

Dallas menegaskan, kebohongan modernitas adalah bahwa manusia pernah hidup dalam struktur sosial primitif yang terikat oleh kesetiaan dan permusuhan kesukuan, yang bergerak melintasi bumi untuk mencari sumber daya baru, sementara pada saat ini, manusia hidup di negara-negara yang dirancang secara struktural, yang disebut negara, di mana pengambilan keputusan berada di tangan elit yang dipilih oleh massa rakyat dan sebuah pragmatisme bertahan hidup telah ditunjukkan oleh penataan matematika dari proses- proses sosial.

Modernitas inilah melahirkan devolusi. Bukan evolusi. Karena manusia berada pada penurunan kualitas. Karena yang terbentuk, komunitas manusia yang berada pada kungkungan psikosis. Penyakit jaman. Itu disebabkan runtuhnya ikatan geneologi, yang meruntuhkan ikatan sosial. Alhasil merusak tatanan sosial. Karena manusia dijerambab oleh program ‘state’, buatan manusia abad pertengahan. Dengan pondasi filsafat, yang sejatinya meruntuhkan akal sehat. Nietzsche menyebut filsafat itulah berhala.

Dallas merujuk apa yang terjadi pada bangsa Inggris. Selepas runtuhnya Dinasti Plantegenet, mulailah keruntuhan kedigdayaan Inggris. Dan, bahasa yang terkandung dalam Plantegenet itulah: virtue. Mereka para Ordo kekesatriaan yang menjadi pondasi di Eropa, pra rennaisance. Masa itu, kaum baron jamak berada dala tataran virtue (kebajikan). Ini sama halnya dengan futtuwa dalam Islam. Dallas mengurai dengan apik bagaimana titik singgung futtuwa dan virtue yang berlangsung di Eropa. Titik singgung itu berlangsung kala periode Perang Salib.

Ini fakta bahwa hubungan Islam-Nasrani tak melulu gelap. Tak kerap berperang. Justru masa Sultan Sallahuddin –barat menyebutnya Salladin—terjadi ekspor futtuwa yang sangat mempengaruhi Eropa. Hal itulah yang mendorong peristiwa ‘Magna Charta’ di Inggris, abad 13. Tatkala para Ordo Kekesatriaan bersatu melawan kezaliman Raja John, soal penetapan pajak yang tinggi. Karena para Ordo tak menerima hal itu sebagai kebenaran. Dan mereka kerap melakukan perlawanan terhadap otoritas Gereja Roma. Karena terlalu banyak ‘kebohongan’ yang kerap ditutupi soal Nasrani. Disinilah terjadi pertarungan internal dalam Eropa yang sangat mencuat. Dallas, mengulasnya dengan apik dalam kitab ini.

Kematian King Richard III, menandai akhir kisah Dinasti Plantegent. Ini pasca akhir dari virtue yang tumbuh di Inggris. Kekuasaan Inggris kemudian beralih ke keluarga Tudor di bawah kekuasaan Henry VII. Masa itulah Inggris mulai berubah.

Yang menarik, kehidupan para Ordo itu berlangsung dengan landasan virtue. Mereka saling menikah satu sama lain dengan menjaga kekuatan kekeluargaan. Drama Romeo dan Juliet sejatinya hanya ironis, kata Dallas. Semestinya, dua keluarga: Capulet dan Montague bisa menggabungkan kekuatan. Tidak berada pada posisi saling oposan. Karena pernikahan menggabungkan dua kekuatan: kekayaan dan properti. Disitulah kekuasaan menjadi simbolis. Sementara masa Plantegenet di Inggris, para Ordo itu saling menjaga keturunan agar tetap unggul. Disitulah pernikahan menjadi titik penting untuk kepemimpinan. Dalam kitab lain, Dallas –Shaykh Abdalqadir as sufi—menunjukkan hal itu dalam “The Return to the Chalipate”. Tatkala Daulah Utsmani berhasil mengontrol kendali futtuwa dengan menciptakan kampung ‘Topkapi’. Disitulah kefitrahan terjaga. Karena  hal itu merujuk pada kampung Madinah, yang dibuat Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam.

Nah, masa Perang Salib, di satu sisi hal itu merupakan ironi kelakuan manusia yang tak memahami. Dallas menyebutnya, hanya bak manusia modern masa Perang Dingin. Tapi di balik itu, Sultan Salahuddin memberikan hal besar bagi kaum Eropa. Disitulah tahanan-tahanan pasukan Salib dididik dengan memberinya ajaran futtuwa. Lalu mereka diijinkan kembali ke Eropa untuk menyebarkan ‘virtue’. Dari situlah lahir dinasti Plantegent yang membahana. Para Kesatria itulah yang menjadi tonggak kedigdayaan Inggris, sebelum dijungkilkan paham nation state, pasca Revolusi Inggris 1668.

Namun, sebelum periode itu masih muncul Robert Deveroux, dialah Earl of Essex kedua. Kesatria dari keluarga Essex. Keluarga baron terkenal di Inggris. Robert berada di garis depan membela fitrah agar tetap berjalan di Inggris. Dia menyerang Elisabeth I, perempuan yang dijadikan Ratu Inggris. Karena Robert tak menyetujuinya. Dan perilaku Elisabeth yang telah banyak disetir kaum Gereja, demi melancarkan perang aqidah melawan pengikut Luthern. Masa itu, terjadi krisis besar Eropa, tatkala pengikut Luthern, 1517, mendeklarasikan diri sebagai Protestan, yang menentang otoritas Gereja Roma dalam hal aqidah. Eropa membara, karena geliat filsafat telah merambah ke segala lini. Robert, termasuk generasi akhir dengan virtue di tansinah Inggris.

Tapi dibalik bangkitnya Protestan, smuncul sekte baru yang menggeliat. Itulah sekte bankir. Mereka dengan kekuatan finansial, tanpa virtue. Alhasil terbentuklah tatanan dunia baru. Dallas menuliskan, pada tatanan dunia lama, yang diperintah Gereja Kristen, adagium di Eropa, setiap anak dulahirkan ke dalam dosa. Pada tatanan dunia baru, yang dikendalikan Sekte bankir, setiap anak dilahirkan ke dalam utang. Dan sekte bankir itu baru mencuat kali pertama di tanah Inggris. Revolusi Inggris, 1668, menjadi titik tolak bangkitnya sekte bankir. Hancurnya virtue. Berakhirnya Ordo Kekesatriaan. Akhir dari futtuwa. Dan kehidupan kekesatriaan telah berakhir. Karena merekalah penjaga fitrah di Inggris.

Revolusi Inggris menjadi titik awal bangkitnya sekte bankir. Mary I dari generasi Tudor, dinikahkan dengan William of Orange yang sejatinya orang Belanda. Raja Belanda. Disitulah campur tangan bankir telah masuk. Inggris pun memasuki akan modernisme yang tak lagi merujuk pada virtue. Dan ini berlangsung dan menyebar seantero dunia. Hingga meluluhlantakkan Daulah Utsmaniyya, 1840 kala tanzimat. Tiga abad setelah revolusi Inggris berlangsung.

Dari sinilah Dallas memberi pesan penting. Bahwa new nomos kembali. Kehidupan masyarakat dengan fitrah. Dengan futtuwa. Persaudaraan keimanan. Ini antitesa dari persaudaraan uang, yang diciptakan sekte bankir. Yang melabelkan nasionalisme, humanisme, dan defenisi yang lahir dari rasio, yang digodok masa rennaisance dan aufklarung.

New nomos itulah yang melahirkan tatanan kehidupan baru. Kembalinya fitrah. Persis seperti semangat pemuda Al Kahfi yang keluar dari Goa. Dallas menyebutnya, karena tertidur yang lama. Ini saatnya masyarakat futtuwa kembali bangun dari tidurnya. Dallas mengutip protes Edmund Burke, yang terkenal, “Zaman kesatria telah tiada: jaman para sofis, ekonom, dan penghitung telah berjaya, dan kejayaan Eropa telah padam selamanya.” Karena titik hancurnya ketika kegagalan Essex dalam kudetanya melawan Ratu Inggris. Dan kini dunia dikontrol tatanan sekte bankir, dalam format yang berbeda. Format ‘state’. Antonio Gramsci, 1924, filosof Komunis tentang kematian Lenin: “setiap negara (state) adalah kediktatoran dari sejumlah kecil orang, pada gilirannya, mengorganisir sekitar satu orang diantaranya.” Licuano Canfora memberi interpretasi. Itu adalah defenisi untuk demokrasi kontemporer kini. Bukan demokrasi yang asli. Yang murni merujuk pada virtue.

Dari situlah Dallas mengedepankan modernitas sebagai titik hilangnya kebajikan. Diganti morality, yang berasal dari defenisi rasionalitas semu. Karena Martin Heidegger telah memberi vonis pada rasionalitas, sebagai kebuntuan dalam menerapkan kebenaran. Maka, morality itu adalah kepalsuan.

Dallas pun membawa kembali pada Ibnu Khaldun. Tentang ‘assyabiyya’. Persaudaraan elit karena Illahi. Dari sinilah titik futtuwa itu diperlukan. Dari sinilah titik new nomos dimulai. Assyabiyya.

Inilah masa yang harus disambut. Dallas mengutip kalimat Hamlet: “Interim is Mine”. Dari Hamlet ini, Dallas membawa manusia kini pada masa interim. Masa pergantian peradaban. Karena akan runtuhnya modernitas dan sekte penopangnya. Kembali pada virtue dan kekesatriaan. Islam telah memiliki pranata lengkap soal itu. Madina memberi garis parameter yang pasti. Perilaku tiga generasi awal: amal ahlul Madinah. Inilah yang terus terjaga penerapannya hingga masa Topkapi dalam Daulah Utsmaniyya. Itulah futtuwa sebagai landasan penjaga kehidupan fitrah. Dan itu dimulai dari assyabiyya. Kecintaan pada Allah Subhanahuwataala. Itulah new nomos.

Irawan Shiddiq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *