MARI BER-ZAKAT SESUAI SYARIAT

Allah Subhanahuwataala berfirman: “…..Dirikanlah sholat, tunaikanlah zakkat dan ta’atlah kepada Rasul supaya diberi rahmat.” (Al Quran 24:54). Perintah mendirikan sholat kerap berdampingan dengan Zakat. Ini menunjukkan penegakan Zakat sama pentingnya dengan Sholat. Jika Sholat adalah tiang agama, maka Zakat itulah dindingnya. Karena peranan Zakat tidak bisa disepelekan.

Jaman sekarang, penegakan rukun Zakat hampir tidak lagi mengikuti fiqih yang diterapkan Sunnah Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Karena banyak rukun (fiqih) Zakat yang dilanggar dengan alasan “kemudahan”. Tapi di satu sisi hal itu malah merubuhkan fiqih Zakat. Inilah kewajiban umat Islam kini untuk kembali menegakkan rukun Zakat dengan benar.

Sama halnya dengan sholat, Zakat juga memiliki fiqih yang harus diikuti. Jika salah satu fiqih dalam sholat diabaikan, maka sholat menjadi tidak sah. Untuk sholat, dimulai dari wudhu, niat, takbiratul Ihsam, sampai salam. Dan harus menghadap kiblat dengan benar. Jika salah satunya salah, maka sholat tidak sah. Pun demikian dengan fiqih Zakat. Ada rukun yang wajib diikuti, agar Zakat berlangsung sahih. Dan, secara tanpa sadar kini kita banyak lalai dalam melaksanakan fiqih Zakat itu dengan benar.

Zakat terbagi dua jenis. Zakat fitrah dan Zakat mal (harta). Zakat fitrah dilangsungkan selama bulan Ramadhan saja. Namun Zakat mal, inilah yang harus kembali ditegakkan. Zakat Mal inilah sebagai penyucian harta kita.

Syarat utama penunaian Zakat mal ialah dibayarkan kepada Ulil Amri Minkum, pemimpin kaum muslimin. Karena sesuai dengan Al Quran Surat At Taubah ayat 103. Allah Subhanahuwataala memerintahkan untuk menarik Zakat. Perintah itu jatuh kepada Ulil Amri Minkum. Tafsir Imam Qurtubi terkait Al Quran Surat An Nisa ayat 59 terkait ‘Ulil Amri Minkum’ itu adalah salah satunya tugas Sultan untuk menarik Zakat. Jadi, tempat atau lokasi bayar untuk Zakat mal adalah kepada seorang Sultan atau pemimpin kaum muslimin. Ini adalah syarat mutlak, sebagaimana sholat mutlak harus menghadap ke Ka’bah. Jika sholat tidak menghadap Ka’bah, maka tidak sah. Demikian juga Zakat mal. Jika tak ditunaikan pada tempat bayar yang benar, maka dianggap tak sah.

Syarat kedua terkait nisab dan haul. Haul terhadap harta Zakat, berlaku satu tahun hijriah. Terkait dengan harta yang sudah melewati haul-nya. Untuk nisab Zakat berlaku ukuran emas dan perak, dinar dan dirham. Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam bersabda, untuk 20 Dinar maka Zakatnya adalah setengah Dinar. Untuk 200 Dirham maka Zakatnya adalah 5 Dirham. Inilah nisab harta kita yang wajib di Zakati. Tentu yang telah melewati masa haul selama setahun hijriyah.

Jadi parameter untuk membayar Zakat adalah dengan Dinar emas dan Dirham perak, mengikuti lagi Sunnah Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Dan ketentuan ini tidak bisa diubah, dengan menggunakan uang kertas, atau pun transfer via bank. Karena hal itu sama sekali tak dikenal dalam Islam. Konsekwensi jika kita menggunakan uang kertas, yang nilainya ditentukan oleh bank, tentu akan merubah fiqih Zakat. Dan nilai itu tak terkandung pada kertas itu. Melainkan terjadinya inflasi terus menerus hingga tak memenuhi syarat sah untuk pembayaran Zakat. Dinar emas yang digunakan adalah emas seberat 4,25 gram dan Dirham seberat 4,99 gram. Kesultanan Bintan Darul Masyhur telah menerbitkan Dirham perak, yang bisa digunakan untuk pembayaran Zakat, untuk memenuhi syarat fiqih tersebut.

Kembalinya rukun Zakat dengan benar, maka akan mengembalikan lagi kekayaan harta riil kaum muslimin. Karena Zakat merupakan paru-paru harta. Dari muzzaki, harta ditarik, lalu disebarkan pada mustahik. Jadi harta Zakat tidak bisa disimpan-simpan, atau pun digunakan untuk keperluan lain. Melainkan menjadi hak mustahik satu-satunya. Ini adalah perintah Allah Subahanhuwataala yang tak boleh dilanggar.

Pembagian Zakat kepada mustahik juga wajib menggunakan Dinar atau Dirham. Tapi dalam kondisi sekarang, kita memfokuskan pada pembagian dalam bentuk Dirham perak. Jadi tidak bisa digantikan dengan uang kertas atau pun alat bayar yang tak sesuai Sunnah Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Dengan demikian, maka harta pun kembali beredar dari kaum muslimin yang kaya, kembali pada muslimin yang miskin. Inilah jalan untuk pengentasan kemiskinan yang nyata.

Kesultanan Bintan Darul Masyhur telah rutin membagikan Zakat dalam bentuk Dirham perak kepada mustahik di sekitar Tanjung Pinang. Mustahik mendapatkan Dirham, yang kemudian bisa digunakan di Pasar Sultan, yang berada di kawasan Sei Jang, Tanjung Pinang. Di pasar yang mengikuti aturan muamalat itulah, Dirham dan Dinar bisa digunakan sebagai alat tukar. Maka dari penegakan Zakat, kita sekaligus mengembalikan muamalat. Inilah Sunnah-Sunnah yang harus kita dirikan kembali.

Penegakan Zakat ini menjadi masalah serius umat Islam kini. Padahal disinilah titik kunci kembalinya kekuasaan Islam. Ketika seorang muslim membayar Zakat kepada seorang Sultan, maka dia kembali mengikuti Ulil Amri Minkum yang diperintahkan Allah Subhanahuwataala. Ketika seorang muslim membayar Zakat mal dengan Dinar atau Dirham, maka Sunnah Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam kembali lagi. Inilah titik kunci kembalinya Islam.

Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar asal Skotlandia berkata, satu-satunya jalan untuk kembali ke Islam bagi  umat Muslim adalah dengan  mengembalikan zakat yang ditarik dan diawasi oleh seorang   Amir pada  tingkat Jama’ah lokal. Ingat bahwa puasa menyucikan tubuh kita. Zakat menyucikan kekayaan dan harta. Tanpa Zakat – Tasawwuf tak akan  bisa ada.

Kita mohon Kemurahan  yang luar biasa dan Sakinah dari Allah, dan Fatihah pada semua pengikut Manusia Terbaik, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam.

H. Huzrin Hood, SH

Sultan Bintan Darul Masyhur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *