Muslim: Pembuat Jalan bukan Penyapu Jalan

Oleh: Shaykh Abdal Haqq Bewley. Moussem Shaykh Abdalqadir as-Sufi. Hari kedua, Ahad, 21 Oktober 2018. Masjid Jumu’a, Cape Town, Afrika Selatan. Shaykh Abdal Haqq Bewlwy menyampaikan derse. Berikut penyampainnya. A’udhu billahi minna shaitani rajim. Bismillahi rahman nir rahim.Wa la haula wa la quwwata illah bi’llahi aliyyul adhim. Wa sallallahu ala Sayyidina wa Maulana Muhammadin. Wa alihi wa sahbihi ajma’in.Wa mani’ taba’um wa ihsani illah yaum id-din!”Segala Puji hanya bagi Allah yang telah membimbing kita ke sini!Dan jika bukan karena Allah, sungguh kita tidak akan memperoleh bimbingan!”Saya memuji dan bersyukur kepada Allah karena telah mengumpulkan kita semua di majelis mulia ini, dimana kalbu berkumpul bersama dalam cinta kepada Allah dan RasulNya, sallalahu alaihi wa salam.Saya bersyukur kepada Allah tabaraka ta’ala bagi penyebab berkumpulnya kita, Shaykh kita, Shaykh Abdalqadir as-Sufi – semoga Allah ta’ala memanjangkan hidup beliau dan memberi kesehatan yang kukuh baginya dan terus menerus memberi kita dan Muslimin seluruhnya manfaat darinya!Amin. Shaykh Muhammad ibn al Habib berkata dalam Diwannya:“Dia adalah cahaya Rasul di tiap-tiap jalan, dan dia-lah penyembuh kalbu, terang-terangan dan rahasia.”Semoga Allah ta’ala memberikan balasan Shaykh Abdalqadir atas usahanya fisabilillah, dan menolong kita melaksanakan apa yang telah diajarkannya kepada kita! [Amin!]

Pertama-tama saya ingin membacakan arti dari Ayat-Ayat yang baru saja dibacakan: Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah,Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya),Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi,Maka ia menerbangkan debu,Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya,Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur,Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada,Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha mengetahui keadaan mereka.(Surat 100 Al-‘Adiyat. Yang Berlari Kencang)

Saya dan Hajjah Aisha baru-baru ini kembali dari sebuah perjalanan ke Turki. Salah satu alasan melakukan perjalanan itu adalah keinginan Hajja Aisha untuk menyaksikan sebuah tempat bernama Göbekli Tepe [sebuah situs arkeologis di tenggara Turki, sekitar 10 km dari kota Urfa]. Nah, Göbekli Tepe itu adalah sebuah situs yang tidak seharusnya masih berdiri. Ia adalah sebuah komplek kuil tempat pemujaan yang berasal dari dua belas ribu tahun sebelum Masehi, sekitar empat belas ribu tahun yang lalu. Masa itu insan manusia diduga belum lagi mulai berkumpul bersama, mereka belum mampu membangun apapun. Menurut ide sebelumnya tentang manusia hal ini tidak mungkin terjadi, karena tidak ada sesuatupun yang telah dibangun di masa itu. Namun nyatanya di tempat ini terdapat sebuah komplek kuil dimana orang-orang berkumpul bersama, tentu saja untuk menyembah Allah dengan caranya mereka sendiri untuk menyembah Allah di masa itu. Sedang pendapat sebelumnya adalah bahwa orang-orang itu, mereka adalah pemburu-pengumpul Jaman Batu yang pelan-pelan bertahap mulai berkumpul menjadi masyarakat bersama dan memulai bercocok tanam dan kemudian, karena itu, kebutuhan untuk beragama berkembang. Penemuan ini telah menjungkirbalikan seluruh ide tentang sejarah manusia! Tiba-tiba, pada awalnya orang-orang beribadah dan darinya muncul pertanian. Sesuatu yang hebat terjadi!

Alasan mengapa saya mengutarakan hal ini adalah karena orang-orang itu sungguh-sungguh amat pandai di berbagai hal. Selain dari kecanggihan teknik membangun bangunan-bangunannya, mereka juga menciptakan berbagai artefak luar biasa. Dan beberapa dari artefak perkakasnya itu dipajang di sebuah museum di sebuah kota dekat nya, Sanliurfa. Dan museumnya amat bagus. Penampilannya dimulai dengan keberadaan orang-orang tersebut, lalu perlahan-lahan bergerak sepanjang jaman: Jaman Neolitic, Jaman Perunggu, Jaman Besi, kaum Yunani dan Romawi. Dan hebatnya adalah bahwa barang-barang yang diproduksi mereka itu sungguh-sungguh penuh kehidupan, penuh semangat, sangat tegas mendukung kehidupan, elan yang luar biasa! Jenis pahatan dan artefaknya sungguh begitu indah padahal mereka hanya memiliki perkakas batu. Lalu perlahan, berjalan sepanjang jaman, terlihat apa yang terjadi, apa yang dibuat menjadi semakin membosankan, menjemukan. Dan orang-orang Yunani yang dianggap hebat dalam segala hal itu sesungguhnya merosot menjauh dari pahatan asli penuh elan yang nyata yang dimiliki khalayak ini.

Dan ini membuat saya paham atau mengembalikan saya, kepada apa yang difirmankan Allah ta’ala di Al Qur’an: bahwa semuanya diawali di titik tertinggi lalu mereka perlahan-lahan merosot. Dan sejarah manusia memang demikian. Mereka adalah khalayak yang hebat. Dan perlahan-lahan merosot lalu keadaannya bertambah gelap dan makin gelap, buruk dan makin buruk…Ia tak menjadi semakin hidup – ia pelan-pelan kehilangan hidup. Tentu saja hal ini berujung pada kita di sini. Mengapa saya menyampaikan ini? Imam Malik (rahimahu Allah ta’ala) berkata, bahwa, “Urusan ini hanya akan dihidupkan kembali, akan dibawa kembali kepada apa yang pernah ada, apa yang ada pertama kali. Ia hanya akan menjadi baik melalui apa yang menjadikannya baik di awalnya.” Tentu saja beliau sedang membicarakan tentang Din Islam. Juga sebuah perkataan yang dikabarkan berasal dari Nabi Muhammad (sallallahu ‘alayhi wasallam) yang bersabda: “Di awal setiap abad akan hadir seseorang yang memperbaiki, yang akan menegakkan kembali Din dengan baik.” Karena segala sesuatu itu merosot lalu harus dipulihkan, dibaikkan dan dibaikkan…

Hal lain yang kami lakukan saat berkunjung bersama itu adalah mengunjungi Konya, dan kubur Maulana Jalaluddin Rumi [rahimahu Allah ta’ala]. Kuburnya itu sudah berusia lebih dari 800 tahun lalu dan hebatnya penuh elan! Beliau adalah salah seorang yang menghidupkan kembali Din ini. Dan kita mengetahui apa yang dilakukannya. Beliau melakukannya dengan karya luarbiasanya, kitab “Mathnawi”.“Mathnawi” itu sebuah buku yang mengejutkan! Kitab “Mathnawi” ini sungguh amat hidup. Shaykh Umar kadang-kadang bercerita tentangnya, amat mengejutkan dan amat sedap di beberapa bagiannya! Sedemikian itu hingga terjemahan Nicholson [Reynold Alleyne, 1868-1945, delapan jilid terjemah bahasa Inggrisnya terbit di 1925 – 1940] harus ditulis dalam bahasa Latin untuk menghindari penyensoran! Beliau menghidupkan kembali Din dengan elan dan energi yang dibutuhkannya agar ia bisa kembali hidup. Tentu saja ini membawa saya kepada Shaykh kita, Shaykh Abdalqadir. Maksud saya orang-orang bisa saja berbicara dan membahas terus menerus perihal mereka yang membangunkan kembali Din ini – itu bukan hal yang penting! Mereka itu ada, mereka hadir, dan tak diragukan bahwa Shaykh Abdalqadir adalah salah seorang di antara mereka.

Membangunkan Din kembali hidup di jaman ia telah pudar.Dan bagaimana beliau melakukannya? Bagaimana caranya? Dengan melakukan sesuai metode yang dikatakan Imam Malik: “Ia hanya bisa dipulihkan kemudian dengan apa yang membuatnya terwujud pertama kali.” Maka beliau, semoga Allah memanjangkan kehidupannya, membawa kita ke Madinah. Dan itu dilakukannya melalui tiga buku yang dimilikinya yang juga dibangunkan hidupnya kembali: Tentu saja Al Qur’an yang telah diterjemahkan atas petunjuknya ke dalam beberapa bahasa. Yang pertama, Kitab Allah ta’ala. Lalu “Muwatta” Imam Malik. Dan selanjutnya “Ash-Shifa” Qadi Iyad.Beliau telah menjaga Al Qur’an melalui banyak diantara kalian yang kalbunya telah mempelajari Al Qur’an menuruti pengajarannya, melalui dorongannya, sehingga kita memiliki banyak Hafidh, yang telah hapal Al Qur’an sesuai cara bagaimana seharusnya dijaga, dengan hapalan. Lalu kitab “Muwatta”, dengannya beliau menghadirkan kembali Fikih ahli Madinah kepada kita dan menghidupkannya kembali. Sebagian besarnya melalui Shaykh Umar Vadillo yang telah mempelajari Fikih muamalah dan berbagai transaksinya seperti kita tahu, dan membawanya kembali setelah terlepas seluruhnya.

Dan tentu saja kitab “Ash-Shifa” yang merupakan Sirah, yaitu kisah kehidupan Rasul, sallahu alaihi wa salam, yang disampaikan dengan cara yang sedemikian mendalam. Jadi itulah perihal lahiriah yang beliau telah lakukan. Hanya saja saya senantiasa berkata bahwa terdapat dua jenis Fikih. Ada Fikih yang berkait dengan melestarikan Din. Dan inilah yang telah dimiliki oleh Muslimin sepanjang 1200 tahun. Dan ada juga Fikih menegakkan Din. Nah, Fikih menegakkan Din adalah dengan melakukan hal yang serupa, hanya saja ia membutuhkan energi yang amat berbeda. Untuk menegakkan Din kita membutuhkan energi yang sangat berbeda dengan yang dibutuhkan untuk melestarikannya. Pemisalannya adalah ketika membabat membuat rintis di hutan. Untuk membuat sebuah rintis di hutan dibutuhkan energi tertentu dan itu sungguh-sungguh kerja keras. Untuk memelihara rintisnya di sana, setelah ia ada, adalah sebuah usaha yang amat berbeda. Itu dibutuhkan. Hanya keduanya tidak sama. Kini kita hidup di jaman dimana Din telah pudar dari keparipurnaannya.

Dan apa yang telah diteladankan oleh Shaykh kita adalah membabat agar rintis ada menembus hutan dimana kita hidup ini. Ketika Din telah pudar, ketika jalan Din telah rimbun lebat tertutup. Sehingga amat perlu untuk digali kembali, dengan elan ini. Kita harus menjadi pembuat rintis, pembuat jalan bukan penyapu jalan! Ada berbagai Ayat Allah ta’ala di dalam Al Qur’an perihal menghidupkan bumi. Allah berulangkali berfirman perihal ini. Menghidupkan kembali bumi. Shaykh Abdalqadir sendiri telah mewujudkan itu. Beliau telah menghidupkan kita. Dan beliau telah menghidupkan kembali Din, untuk orang banyak di masa ini. Dan itulah tugas kita. Dalam sebuah ungkapan amat tepat beliau menyebutnya sebagai “kearifan meradak”. Kita harus memiliki kearifan meradak ini. Dalam situasi kita ini, kalian haruslah sedikit radak. Kalian harus memiliki keberanian. Lebih banyak daripada yang saya miliki. Kalian harus memiliki keberanian dan komitmen. Inilah apa yang harus kita lakukan.

Kita harus mewujudkannya.Nah, kini alasan mengapa saya memilih Ayat yang dibaca di awal tadi: Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah,- inilah ungkapan tertinggi perihal sungguh-sungguh hidup, yang diberikan Allah ta’ala kepada kita di Al Qur’an. Ini adalah sebuah Surat, yang tidak sering dibaca khalayak:Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya),Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi,Maka ia menerbangkan debu,Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,Jadi jenis energi seperti apa? [Pada Ayat] itulah energi Din yang harus kita miliki. Itulah yang kita perlukan. Kita tidak boleh menjadi orang-orang yang berleha-leha dalam kemenangan kita, berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja. Kebanyakan ‘ulama di masa kita ini hidup seakan-akan hidup di masa 200 tahun lalu. Ada urusan lain yang harus dikerjakan kini!Semoga Allah ta’ala memberikan kita keberhasilan untuk sungguh-sungguh mewujudkan teladan luar biasa yang kita peroleh dari Shaykh Abdalqadir ini. Dan memulihkan kembali Din sahih Muhammad, sallahu alaihi wa salam, sebagaimana adanya pada “Al Muwatta”. Dan dalam mewujudkan cinta dan persaudaraan dan persaudarian yang tersaji bagi kita jika kita sungguh-sungguh menyimak “Ash Shifa” Qadi Iyad.

Dan menghidupkan kembali Tawhid suci yang terdapat pada setiap Ayat Al Qur’an di hati kalbu kita dan mereka yang ada di sekitar kita.Semoga Allah ta’ala memberi kita keberhasilan mewujudkan DinNya pada diri kita dan di sekitar kita, dan menghidupkan kembali hati-hati kita dan hati-hati orang-orang di sekitar kita, dan dunia mati tempat kita hidup ini. Sehingga sekali lagi Nur Allah bersinar, dan Keadilan Din terasa kembali di dunia tempat kita hidup! Amin. FatihaAl-láhumma sál-li ‘ala Sayyidina Muhámmadin ‘abdika wa rasulikan nabíyyil ummíyyi wa ‘ala alihi wa sáhbihi wa sál-lim taslima.Subhana rábbika rábbil ‘izzati ‘ámma iasifun.Wa salamun ‘alal mursalin wal hamdu lil-láhi rábbil ‘alamin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *