Sultan dan Dinar Dirham

Oleh: Zaim Saidi. Di zaman ini wajar timbul pertanyaan tentang tata cara penetapan seorang Amir atau Sultan, dan sesudah hampir seabad tata cara ini tidak dipraktekan, bagaimana masyarakat Muslim dapat kembali memulainya?

Dalam al-Ahkam as-Sultaniyyah Imam al Mawardi menyebutkan dua cara pemilihan seorang pemimpin, yaitu: melalui pengakuan dan keputusan sejumlah orang yang ’berpengaruh dan berwenang’ (ahl al-hal wa’l-‘aqd), atau melalui penunjukkan oleh Khalifah (atau Sultan) sebelumnya.
Raja Ali Haji, ulama Nusantara abad ke-19, menambahkan satu cara lagi pengangkatan seorang sultan yaitu melalui taqallub, perebutan secara fisik. Raja Ali Haji menyatakan: “Seorang laki-laki yang mempunyai kuat mengalahkan satu negeri itu, kemudian menjadilah ia raja dengan dirinya sendiri.”
Sejarah panjang umat Islam pun menunjukkan pada kita pengisian otoritas sepeninggal Rasulullah SAW memiliki pola yang tidak sama, sekurangnya empat pola:

1. Atas dasar bay’ah oleh sejumlah ulama yang mengikat serta para pemimpin umat (ahl al-hal wa’l-‘aqd).
2. Atas dasar penunjukan dan pilihan oleh Khalifah atau Sultan (atau Wazir al Kubra) sebelumnya.
3. Atas dasar keputusan konsultatif (shura) sejumlah orang tertentu.
4. Atas dasar pengisian oleh seseorang yang berhasil, mampu dan memiliki kualifikasi, sebagai pemimpin, yang kemudian mendapat pengakuan dari masyarakat.

Kini saatnya Muslim kembali berjamaah. Dengan berbaiatnya sejumlah Muslim kepada satu orang Amir atau Sultan yang secara bertahap menerapkan syariat Islam, utamanya dalam hal-hal yang menyangkut kehidupan sosial, maka mulai kembali tegaklah Daulah Islam.

Beberapa hal pokok yang ditetapkan syariat Islam kembali bisa dijalankan. Imam Qurtubi menyebutkan hal-hal pokok itu dengan mengatakan makna ‘’taat kepada para amir”, dalam ayat Qur’an tentang ulil amri, adalah dalam 7 perkara:

pencetakan dinar dan dirham,

penetapan takaran dan timbangan,

penetapan hukum,

perjalanan haji,

salatJum’at dan penegakkan mimbarnya,

penetapan dua Id (idul fitri dan idul adha), berjihad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *