Sultaniyya


Ini tentang Dinul Islam. Imam Mawardi, abad 10, menerbitkan kitab ‘al ahkam as sultaniyya’. Bahasa sultaniyya telah menjejak sejak kaum muslimin ada. Sultaniyya bukan tentang harokah (gerakan) Islam. Tak pula hanya komunitas penggemar emas dan perak. Bukan pula kumpulan gerakan politik Islam. Tapi tentang tegaknya Dinul Islam. Kembalinya syariat dan hakekat secara berpadu. Imam Malik berkata, syariat tanpa hakekat itulah sesat. Hakekat tanpa syariat itulah zindiq. Era kini, syariat lumpuh. Hakekat, terpenggal oleh defenisi kuffar soal wujud (eksistensialisme), yang berubah menjadi esensialisme sebagai tonggak kebenaran. Karena Tuhan didefenisikan ulang oleh manusia. Sejak masa rennaisance di Eropa. Yang diambil separuh dari cara berpikir mu’tazilah. Masa modern inilah buah dari paham esensialisme, puncak kesalahpahaman berpikir manusia. Karena manusia mendefenisikan sendiri tentang manusia. Itulah yang disebut humanisme. Dari sinilah tonggak sistem tercipta. Logos atau logika menjadi tonggak berpikir, dan dasar membangun sistem kehidupan. Masa modern pun manusia dilanda kegelapan.

Karena sejatinya, semua perkara manusia diatur oleh Sang Khalik. Itulah fitrah. Termasuk urusan pemerintahan dan kekuasaan. Juga memiliki fitrah. Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam telah meletakkannya di Madina (Rumah Din). Surat Al Fatihah menjadi kunci mukminin untuk terus berada dalam kelurusan. Dalam Fitrah. Karena melawan fitrah, itulah kesesatan. Al Quran Surat Al Wakiah memberi batasan, golongan kanan atau golongan kiri. Golongan kanan itulah pengikut fitrah. Golongan kiri berarti berada dalam poros of evil (poros setan). Soal fitrah itulah terkandung rububiyah. Skema tentang keseluruhan alam, yang telah diatur sifatnya oleh Allah Subhanahuwataala. Rububiyah mengatur segala mekanisme kehidupan, termasuk pula pola kekuasaan. Al Quran Surat An Nur ayat 26 menjadi contoh nyata perihal rububiyah yang tak pernah salah. Itulah Din Islam. ‘Din’ berasal dari kata ‘dal alif nun’, daana yang bermakna utang dan mengadili. Tentang kehidupan di dunia sebagai utang. Dalam bahasa lain ‘muamalah’, yang bermakna perdagangan. Al Din Al Muamalah, Din ini sebagai perdagangan kepada Allah Subhanahuwataala. Kata ‘muamalah’ disini bukan bermakna tijarah dalam fiqih muamalah (dalam makna sempit). Kaum beriman menyadari, kehidupan ini berupa utang, yang akan ditagih dalam Yaumil Akhir. Disitulah hisab dilakukan. Maka, berada dalam fitrah adalah keberuntungan. Jika tidak, manusia berada dalam kerugian (Al Quran Surat Al Asr ayat 2). Manusia merugi itulah kaum kuffar. Yang mengingkari ‘alastu bi Rabbikum’. Inilah kelompok yang tak manut pada fitrah. Merubah ketentuan alam, terjebak pada nafsu duniawi. Melupakan ajang Yaumil Akhir. Hingga manusia pun mendefenisikan ulang tentang manusia dan Tuhan. Humanisme tadi. Dalam bahasa lain, kemusyrikan. Karena manusia mendudukkan lain soal Tuhan.

Para filosof barat sejak era aufklarung yang mendefinisikan ulang tentang itu. Shaykh Abdalqadir as sufi, dalam kitab ‘Sultaniyyya’ berkata, “Atas alasan inilah ahli-ahli filsafat mereka sendiri mengatakan kepada mereka bahwa faktor dominan pada jantung kemenangan mereka ialah paham nihilisme yang akan menghisap siapa saja ke dalam kehancuran.” Nihilisme, tentu bukan kosakata muslim. Tapi susunan keadaan penjelasan tentang humanisme. Masa post modernisme rujukannya. Karena nihilisme buah dari redefenisi bahwa manusia disebut homo homini lupus. Dan sifat manusia mencari keuntungan sebesarnya, dengan modal sekecilnya. Nihilisme penjabaran tentang sifat ketamakan dan kerakusan manusia. Tentu itu bukan dari sudut pandang rububiyah. Karena nihilisme bukan kosakata tentang fitrah.

Bersama Sultan Huzrin Hood

Shaykh Abdalqadir as sufi berkata, “Kejadian-kejadian selama 200 tahun terakhir, yang merupakan kurun singkat kekuasaan kaum kuffar, dapat dengan jelas dilihat sebagai spiritual bencana yang bergerak menurun yang berakhir dengan permainan akhir nihilisme total.” Revolusi Amerika, sambungnya, didengungkan sebagai tonggak peletak landasan kehidupan oleh kaum kuffar modern, yakni demokrasi dan konstitusionalisme. Revolusi Rusia, menandai perkembangan lanjutan dalam strukturalisme yang diprakarsai Napoleon Bonaperte, sang pencipta maut modern state. “Tiga revolusi ini –revolusi Amerika, revolusi Perancis, dan Revolusi Rusia—menggantikan pemerintahan oleh seorang raja, dengan sebuah sistem (system rule),” tulis Shaykh Abdalqadir as sufi lagi.

Dari sini tampaklah bagaimana fitrah kekuasaan itu berubah. Dari pola Vox Rei Vox Dei (Suara Raja Suara Tuhan) menjadi vox populi vox Dei. Dari personal rule menjadi sistem rule. Dari sinilah metamorfosa fitrah itu berubah. Salah satu bentuk faktual ialah perubahan alat tukar, dari emas dan perak menjadi kertas yang distempel oleh state (negara). Sementara dibalik uang kertas itulah bankisme menjadi cukongnya. Alat tukar hanya salah satu benda yang mengalami metamorfosis. Proses ateisme inilah yang memunculkan riba, yang dalam Al Quran merupakan ayat mahkamat, tegas, sebagai sesuatu yang haram.

Shaykh Abdalqadir as sufi mengatakan, “Dengan latarbelakang sejarah ini, memperlihatkan pencapaian singkat dan menyedihkan kaum kuffar dalam upaya mewujudkan fantasi kekuasaan mereka, yakni negara (state) dan mata uang tunggal dunia, penindasan dan pelumpuhan kaum terdidik dalam dunia media hiburan dan perjudian….”

Maka, masa kemusyrikan yang telah didedah sejak era aufklarung itu yang memunculkan fantasi kekuasaan kuffar. Mulai dari pencaplokan cara berpikir filsafat oleh Aquinas, yang dikutip dari Cordoba masa Andalusia. Hingga berkembang liar diteruskan Francis Bacon, Rene Descartes hingga Immanuel Kant. Ketika humanisme disusun, dan Tuhan menjadi ajang penyelidikan ulang. Buahnya, menghasilkan filsafat Rosseou yang telah dimulai dari Machiavelli, Montesquei hingga Bodin. Walau muncul perlawanan dari Duplessis Mornay, seorang monarchomach. Karena monarkhi masa itu, tengah membusuk, yang mengakibatkan perlawana untuk gairah menyusun ulang tentang kekuasaan. Humanisme sebagai dasar. Le contract sociale ala Rosseou menjadi pondasi bahwa kekuasaan berhak ditentukan oleh manusia sendiri. Bukan oleh Tuhan. Inilah pondasi modern state, yang kini telah berubah menjadi tiran. Dalam mekanisme itulah system rule menggejala dan merusak tatanan fitrah manusia. Metamorfosa terus bergulir, dari eksistensialisme menjadi esensialisme. Kebenaran, tak lagi bersandar pada Wahyu. Melainkan rasio atau logos. Dan manusia sendiri yang berpendapat. Alhasil, tiga orang manusia berdebat, lahir empat pendapat. Inilah yang disebut Imam Ghazali, sebagai keliaran pendapat (opini).

Klimaksnya melahirkan susunan struktur kekuasaan yang disebut ‘state’. Buah imajinasi Machiavelli hingga Rosseou tadi. Disitulah, harus diingat defenisi historis ‘state’ berasal dari Romawi, yang masa kini berubah menjadi ‘fiscal state’. Karena padanan yang sesuai untuk menyebut ‘state’ kini berada pada era Romawi di era Kaisar Augustus. Kala seorang Kaisar dibawah kontrol Legiun, sekelompok militer yang mengendalikan kekuasaan lewat Kaisar. Kini bankir mengendalikan kekuasaan di atas State. Tak heran, fiskal state tak terbaca oleh Machiavelli maupun Montesquei. Karena merupakan pengembangan dari keliaran filsafat. Ini yang membuat setiap state kini berada pada posisi kreditur pembayar utang. Dan semua berutang pada satu istitusi, kaum ooligarkhi. Itulah kelompok bankir.

Wacana politik dan kekuasaan absurd inilah yang mengharuskan memunculkan kaum intelektual baru muslimin. Karena jamak pasca tanzimat di Utsmani, keruntuhan Kesultanan Moghul dan kesultanan di nusantara, melenyapkan otoritas Islam sebagai pondasi kekuasaan. Berganti defenisi menjadi ‘negara Islam’, yang sama absurdnya dengan defenisi kuffar. Dari situlah kita sampai pada titik Daulah. Itulah sultaniyya. Kekuasaan yang dijalankan berlandaskan Al Quran dan Sunnah. Bukan humanisme (firaunisme) vis a vis logika atau logos. Maka, jalan kembali ke Islam adalah wajib. Bukan Islam yang redefenisi ulang agar menyesuaikan konsep kuffar.
Jalan itu dengan membangun kembali kekuasaan fitrah. Jalan itu mudah dengan merujuk pada kembali penegakan pada rukun Zakat. Karena dalam Zakat itulah kewajibkan bersatunya kembali kekuasaan dan kekayaan. Zakat menuntut hadirnya kembali Sultan (Pemimpin). Inilah simbol penegakan syariat Islam. Amar Islam tentu bukan ‘the king can do no wrong’.

Melainkan penegak dan penjaga syariat. Sultan itulah tempat kembali Zakat dikumpul dan dikutip. Tempat mustahik meminta Zakat. Karena Zakat terdiri dari fitrah dan mal. Zakat mal itulah pondasi untuk mengatasi kemiskinan. Selain Sultan, mutlak diperlukan hadirnya Dinar dan Dirham. Inilah alat bayar Zakat, yang berupa harta. Dari Zakat akan hadir muamalat.

Perdagangan dengan basis Sunnah. Tegaknya rukun Zakat, kembalinya kekuasaan dan kekayaan. Karena kekayaan kini dimanipulasi oligarkhi bankir. Kekuasaan kini dikooptasi ‘state’ yang berupa konsep rasionalisme manusia masa aufklarung. Dari sinilah pondasi Al Quran Surat An Nisa ayat 59 diamalkan.
Tentu, menghadirkan dan menggunakan lagi Dinar Dirham sebuah kemutlakan. Karena ini syarat sultaniyya. Tapi tak bertujuan menjadi ‘club dinar dirham’, yang berada pada satu kegemaran yang sama. Karena hal itu tak merubah apapun. Karena dari Dinar Dirham, akan terbawa pada Dinul Islam. Bukan terbawa pada titik Dinar Dirham semata. Karenanya umat mesti kembali berjamaah pada Sultan, dengan pondasi syariat. Bukan pondasi kegemaran pada suatu benda. Misi utama ialah agar Dinul Islam kembali. Bukan sekedar Dinar Dirham kembali. Dalam Dinul Islam itulah Dinar Dirham otomatis mutlak dikembalikan. Dan zona yang bisa membawa itu semua, berada pada Zakat, sebagai titik memulai. Kembalinya kekayaan dan kekuasaan.

Sultan bukanlah marketing untuk mendistribusikan Dinar Dirham. Amir bukan sekedar simbolisasi agar Dinar Dirham bisa dicetak. Melainkan tanggungjawab untuk memimpin kembalinya syariat. Karena AMR memimpin jamaah yang berisikan futtuwa. Jamaah bukanlah yang hanya berisikan pada kaum yang serupa dalam kegemaran. Melainkan kumpulan kaum Pecinta Allah Subhanahuwataala. Yang telah dan berupaya mentiriskan nafsunya. Dan mengedepankan qalbu. Syariat itulah jalur untuk mengkandaskan nafsu, yang berisi jebatan setan.
Lawan yang dihadapi adalah sistem rule, yang menjadikan ‘state’ sebagai mesin dengan mentaati logika falsafah manusia. Napoleon berkata, “satu-satunya lembaga yang pernah dibuat oleh manusia untuk mengendalikan kekuatan uang dalam suatu masyarakat ialah ‘state’”.

Disinilah titik tekan sultaniyya berada pada futtuwa. “Futtuwa is tassawuf. Ma’rifatullah is secret. Qurtubi is final word,” tegas Shaykh Abdalqadir as sufi. Dari tassawuf inilah antitesa atas logos atau filsafat, yang jadi pondasi sistem kuffar kini. Karena tassawuf mengembalikan rubibiyah. Fitrah secara keseluruhan, akan muncul dengan cara pandang dan perilaku tassawuf. Futtuwa inilah yang menghiasi Kesultanan Islam, mulai dari Andalusia, jazirah hingga nusantara. Tanpa futtuwa, kehadiran Islam hanya keniscayaan. Karena akan berganti pada kegemaran. Bukan pemahaman pada Allah Subhanhuwataala. Dari sini Shaykh Abdalqadir as sufi membawa kita pada jalan hakekat lebih dulu. Jalan untuk mengalahkan nafs, yang menjadi salah satu unsur dari batiniah manusia. Disamping unsur lahiriah. “Melalui sumber ilmu inilah kita disadarkan bahwa nafs adalah musuh dan nafs ini tidak memiliki nilai realitas intrinsik,” ujar Shaykh Abdalqadir as sufi. Dalam sebuah durs-nya, beliau berkata bahwa jahiliyah ialah tatkala intelegensi yang mengendalikan qalbu. Intelegensi itulah inderawi. Inderawi itulah yang bisa dibaca kasat mata belaka, yang berupa nafs manusia. Dalam nafs itulah rasio bersarang. Logika berada. Karena rasio itu yang melahirkan masa aufklarung hingga mengkreasikan ‘state’ hingga bankisme.

Rasulullah Shallalahullaihi Wassalam bersabda, “Barangsiapa yang mampu menjaga qalbunya, maka aku menjamin Taman Surga untuknya.” Qalbu itu akan tersingkap tatkala nafs berhasil ditundukkan. Shaykh Muhammad Ibn Al Habib, secara ringkas berkata, untuk mengendalikan nafs itulah diperlukan Shaykh yang mengarahkannya. “Siapapun yang tidak memiliki Shaykh yang mengarahkannya, hampir pasti dia akan diarahkan setan menuju jalan kehancuran.”

Inilah realitas mengapa setiap Sultan kerap didampingi Shaiykhul Islam. Umara dan Ulama. Umara itulah Sultan. Ulama itulah Mursyid. Keberhasilan Sultan Al Fatih (Mehmed) diiringi bimbingan Shaykh Aaq Syamsuddin, sang Mursyidnya. Inilah bersatunya syariat dan hakekat. Bak kata Imam Malik. Dan, Shaykh Abdalqadir as sufi, Mursyid yang membimbing para Sultan untuk mengembalikan Dinul Islam era kini. Dimulai dengan mengembalikan kekuasaan dan kekayaan kembali pada muslimin. Zakat. Dari Zakat akan lahir muamalat. Maka, dari sanalah akan lahir ‘new nomos’. Era yang merujuk pada siklus Polybios sebagai ‘monarkhi’. Tapi bukan monarkhi yang bersifat ‘the king can do no wrong’. Melainkan monarkhi bak era Brutus I masa Romawi, dengan natural law sebagai pondasi. Natural law itulah yang disebut Cicero, sebagai Divine law. Jadi, inilah masa ‘interim’, dari era okhlokrasi –yang bukan lagi demokrasi—menuju masa monarkhi. Itulah menyusun kembali sultaniyya. Khilafah minhaj an nubuwah.

Allah Maha Mengetahui

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *