Nihilisme Demokrasi

NIHILISME DEMOKRASI

Allah Subhanahuwataala dalam Al Quran Surat Al Wakiyah, membagi dua golongan manusia. Golongan kanan dan golongan kiri. Kaum kanan itulah yang merujuk Tuhan. Golongan kiri merujuk pada setan laknatullah.

Santo Agustius (354-340 M), membagi dua jenis peradaban. Civitas Dei dan Civitas Terrena. Civitas Dei itulah perdaban merujuk Tuhan. Civitas terrena berarti merujuk setan. Dan pola kekuasaan itu kerap bersifat demikian, sepanjang epos jaman. Simaklah Polybios, sejarawan Romawi (200-118 SM), membuat siklus model pemerintahan. Dari monarkhi, tirani, aristokrasi, oligarkhi, demokrasi, okhlokrasi dan kembali ke monarkhi. Ini siklus yang kerap berlangsung setiap jaman. Ibnu Khaldun dalam Mukadimmah, merumuskan tentang sistematika setiap peradaban yang bak organisme. Sifatnya tentu membagi pada dua kiblat: merujuk Tuhan atau merujuk setan.

Kultur ateisme ini tak pernah berhenti. Berganti kekuasaan. Firaunisme, sampai Namruzd-isme, terus bermunculan, dengan pola dan sistematika berbeda. Tapi di sana, tampaklah poros setan (axis of devil) yang menggejala.

Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar abad kini, menegaskan tentang peradaban kini yang berada pada poros setan. “Demokrasi dan sistem keuangan serta sistematika hukumnya, polarisasi sebenarnya dari dinamika interaktif dari budaya ateisme,” tegasnya. Shaykh Abdalqadir as sufi memberi petunjuk untuk kaum muslimin kini memahami dan mengenali situasi peradaban kini. Kitabnya terakhir, The Entire City (Kota Yang Utuh), memberi linier tentang perbedaan dua garis besar peradaban itu. Fitrah adalah kata kunci. Karena peradaban berbasis fitrah, itulah yang dimention oleh Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Dan, tugas muslimin kini adalah mengembalikan hal itu. Karena telah dirusak oleh umat manusia, sejak masa jaman kegelapan, dengan dalih rasionalitas yang mendasari.

Basis logos atau rasio, inilah yang kini melahirkan sistem politik, ekonomi dan positif law. Hingga membawa manusia pada jurang nihilisme, seperti yang disebutkan Ernst Junger. Nietszche menyebutnya sebagai ‘manusia terakhir’. Manusia yang sejatinya diperbudak sains. Bukan dipermudah sains. Karena teknologi, dengan kreasi rasio manusia, malah membuat menjadi robotik. Kehilangan fakultas kesenangan, yang oleh Imam Ghazali, disebut sebagai fakultas ruhani yang paling nikmat bagi manusia.

Dalam pola kekuasaan, logos mengantarkan titik kini pada okhlokrasi, bukan lagi demokrasi. Tentu saja pola itu berlandas pada ateisme. Bukan merujuk Tuhan. Karena “Tuhan is dead,” seperti kalimat Nietszche. Kekuasaan tak merujuk pada Civitas Dei. Revolusi Inggris, 1668, Revolusi Perancis, 1789, dan Revolusi Rusia, yang melahirkan pola ‘state’ menjadi titik bukti bagaimana eliminasi terhadap pola kekuasaan yang merujuk Civitas Dei. Yang kemudian merambah pada tanzimat di Daulah Utsmaniyah, 1840, dengan pola serupa. Syariat berganti menjadi rechtstaat. Peristiwa 1924, pencopotan Kesultanan, titik puncak betapa model kekuasaan berbasis Tuhan, secara resmi ditanggalkan di belantara Islam. Sama seperti yang berlangsung di belantara Eropa, pasca modernisme.

Tentu hal itu buah efek logos atau filsafat yang jadi pondasi. Demokrasi yang jadi idola, sebagai rasionalisasi kekuasaan ideal, malah telah mati. Athena, peradaban kuno, menjadi rule model kaum modernis. Padahal Aeschylus, pemikir Yunani Kuno, mengkritik pola itu sendiri. Karena demokrasi di Yunani, buah metamorfomasi dari pemerintahan aristokrasi. Herodotos sebagai kampiumnya. Tapi Aeschylus menggambarkan, pola demokrasi Athena hanya buah dari mitos atas kejahatan Orestes, yang membunuh saudara kandungnya. Buah dari krisis keluarga, terhadap tragedi fratisida, matrisida dan sorosida (pembunuhan saudara kandung). Drama mitos itu yang mengantarkan Athena seolah ideal memasuki jalur demokrasi. Karena pemerintahan Aristokrat masa itu, tak lagi menjamin liberty (kemerdekaan) dan security (kenyamanan).

Dari situlah kemudian muncul filsafat. Yang timing kehadirannya dianggap tepat. Pola ini yang berlangsung masa rennaisance (aufklarung). Filosof barat yang mengutip filsafat dari kaum mu’tazilah dari belantara Islam. Lalu merumuskan untuk pola kekuasaan baru. Demokrasi mencuat pasca tirani yang menggejala di kalangan Monarkhi (kerajaan) Eropa. Tragedi pembantaian 1000 orang Huguenot dalam perayaan Santo Bartolomeous, abad 16, menjadi titik balik kaum rasionalis untuk kembali melancarkan: demokrasi. Bak di Athena dulu. Masa itu pula, timing kehadiran filsafat juga dianggap tepat. Karena ditengah krisis Gereja yang tak lagi dianggap bisa mengawal ‘Vox Rei Vox Dei’ (Suara Raja Suara Tuhan).
Shaykh Abdalqadir as sufi menegaskan: “filsafat –kalau benar-benar dipahami—bukanlah sebagai berpikir abstrak atas watak dasariah sesuatu (think), maupun kontemplasi tentang Ada (Being). Filsafat bergerak antara visi utopian suatu masyarakat yang adil, sebagaimana dalam Plato dan Aristoteles, dan sebuah visi disutopia dalam fase modern-nya sebagaimana Nietszche dan Huxley, yang mendefenisikan suatu masyarakat yang harus dihancurkan.”

Dari sinilah pentingnya merujuk pada Martin Heideger (filosof Jerman abad 20). Dia menyerukan untuk melakoni lagi ‘pencerahan’ (lichtung). “Ini yang memungkinkan manusia berjumpa lagi dengan realitas sejatinya sebagai makhluk spiritual,” tandas Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar asal Skotlandia.

Karena Plato sekalipun melihat masyarakat tertib hukum yang dapat diprediksikan tanpa kekuasaan dari Sang Illahi. Karena Plato berkata, “Tolok ukur segala sesuatu adalah Tuhan.”
Dari proses metamorfosa pola kekuasaan berlandas logos inilah, kita sampai pada diagnosa jaman kini. Yang melahirkan demokrasi, buah kudeta pada monarkhi di Eropa yang sejatinya telah berubah menjadi tiran. Klimaknya melahirkan masyarakat pekerja. Ernst Junger menyebutnya sebagai ‘Der Arbeiter’, Si Pekerja. Tentu berbeda konteknya dengan ‘buruh’-nya Marxis. Menurut Junger, seperti juga Heideger, manusia modern, jauh dari menguasai teknologi, sebagaimna diklaim kaum modernis Islam, tapi sesungguhnya ada di bawah kendali sains. Inilah yang disebut Nietszche sebagai nihilis. Kaum nihilis, yang berada pada ketundukan system rule. Sementara Hilairre Belloc, jurist Inggris, menyebut bahwa peradaban yang bertanggungjawab pada rakyat ialah yang berbasis personal rule. Bukan system rule. Karena personal rule menjamin liberty dan security bagi umat manusia. System rule, menjadi manusia sebagai ‘Der Arbeiter’. Pekerja semata.

Konteks modernisme inilah yang kini berlangsung. Tentang duduk manusia hanya sebatas der Arbeiter. Pun demikian dalam pola kekuasaan yang terjadi. Demokrasi hanya tinggal slogan. Karena demos, sejatinya diartikan ‘rakyat’, justru sama sekali tak memiliki ‘kratos’ (kekuatan). Karena justru ‘kratos’ kini tak berada pada pundak ‘demos’. Melainkan di bawah kendali sekelompok oligark, yang mengontrol kekayaan dan meng-create kekuasaan. Merekalah kaum oligarkh bankir. Yang mengatur uang dalam setiap state.

Dari sinilah Shaykh Abdalqadir as sufi mengatakan bahwa sejatinya demokrasi telah berubah menjadi absolut. Menjadi tirani itu sendiri. Sama halnya disampaikan Harold Laski, dalam artikelnya ‘Vindiciae Contra Tyranoss’, yang menjabarkan bahwa ‘state’ hasil kreasi rasio manusia abad aufklarung, patutlah dilakoni re-evaluasi. Karena state telah menjadi tiran.
Fakta ini, DR. Ian Dallas (Shaykh Abdalqadir as sufi), menunjuk kita pada ‘The Entire City’, kitabnya terakhir. Dari sana, beliau mendedah tentang peradaban kini. Drama Christopher Marlowe, ‘Masacre de Paris’ menjadi rule model untuk memahami watak kekuasaan yang tiran. Karena pola kekuasaan yang tiran, memiliki watak serupa, di setiap jaman. Karena berada pada kontrol setan yang tak beda. Civitas terrena tadi.

Maka, kemudian tibalah bagaimana untuk melakukan perlawanan (be resist). Tentu ini bukan sekedar slogan. Melainkan memahami dahulu watak jaman, pola kekuasaan, dan yang tersembunyi (the hidden). Hantu manusia modern tentu berasal dari rasio yang dibentuk manusia sebelumnya. Dan itu bersumber dari logos. Sama halnya mitos masa Yunani kuno dengan drama pembunuhan Orestes. Mitos itu yang harus ditaklukkan. Dallas menampilkan drama pertarungan antara Oedipus dan Dionisious. Bagaimana dan siapa sang Oedipe, digambarkan dari bagian awal buku The Entire City. Itulah yang disebut Laski tadi, re-evaluasi terhadap pola state, yang menjadi barometer kekuasaan dan kekayaan.

Dallas mengajak manusia modern, keluar dari belenggu yang dikatakan ‘takdir’. Karena situasi modernitaas ini bukanlah takdir yang harus diterima. Melainkan pola ‘manusia terakhir’ yang harus dilawan. Dallas merujuk Junger dengan ‘going into your self’. Kembali pada bagian terdalam tubuh manusia. Dan itu berada pada rongga batiniah. Bagian terkecilnya itu yang disebut ‘qalbu’. Tempat akses al haqq bersarang. Karena qalbu diselumuti nafsu, yang harus disingkap. Bak Heideger mengatakan. Penyingkapan qalbu itulah akan memunculkan kekuatan bagi setiap insan manusia. Itulah derajat insan kamil.
Dari penyingkapan qalbu, maka akan tampak al haqq. Otomatis akan memahami fitrah. Termasuk fitrah kekuasaan. Karena fitrah, ialah segala sesuatu yang berasal dari Allah Subhanahuwataala. Jalur kepada fitrah, diraih dengan menundukkan nafs, yang disanalah bersarang logos atau logika (filsafat). Inilah memerlukan tassawuf.

Dari perlawanan ala Dynosius itulah, situasi jaman kini bukanlah takdir yang harus diterima begitu saja. Melainkan dilawan. Maka, sampailah kita pada Islam, sebagai sarana lengkap dalam menjalankan dan menegakkan fitrah. Islam telah memberi pranata untuk menegakkan fitrah. Itulah syariat dan hakekat yang menyatu. Tentu hal itu menghadirkan new nomos, the entire city, kota yang utuh. Bukan firqah atau parsial semata.

Dari situ, sampailah kita pada ‘sultaniyya’. Pola kehidupan berlandas fitrah. Dengan rububiyah sebagai pondasi kekuasaan. Restorasi Zakat sebagai pembuka. Karena disanalah kekayaan (wealth) dan kekuasaan (power) kembali dipadukan.

Irawan Santoso Shiddiq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *