Menggunakan Rasio untuk memahami Al Haqq

Rasionalitas memiliki batas. Posisinya hanya pondasi memahami kekuasaan Allah Subhanahuwataala. Rasio tak bisa dijadikan pijakan dasar untuk memahami kosmosentris sampai kekuasaan. Itulah yanh digunakan kaum rennaisance, aufklarung sampai era modern. Memghasilkan essensialisme. Alhasil merubah pondasi “kebenaran”. Dari sinilah riba, positif law dan lainnya membuah. Krn riba bukan akarnya. Melainkan buah dr kemusyrikan. Pergeseran eksistensialisme menuju essensialisme. Disitulah jahiliuaj bersarang. Jahal artinya kebodohan. Pergeseran dr fitrah. Sesuatu yang berlandas pada ‘liya’budun’. Menjadi hamba Allah semata. Masa modern ialah kala essensialisme menjadi sistem. Sistem rule.

Kejahiliyahan itulah berpondasi pd inderawi semata. Ratio Scripta, spt kata Kant. Alhasil melahirkan nihilisme, spt kata Nietszche. Melahirkan ‘the last man’. Ernst Junger menyebutnya sebagai keabsurd-an materialisme. Tak ada lagi nilai. Bahasa lainnya, hilangnya fitrah. Buah dr jahiliyah tersebut. Krm inderawi digunakan utk memahami kekuasaan Allah semata. Bukan parameter utk menilai baik dan buruk. Karena parameter itu telah diletakkan dlm Wahyu. Bukam pd rasio manusia.

Memahami jahiliyah masa.modern ialah wajib. Bagi kaum beriman. Inderawi, telinga, digunakan utk mendengar tentang al haqq. Bukam melegitimasi kebatilan. Apalagi sebuah tiran. Krn tak bisa tiran memberangus sistem tirani..melainkan yang berpondasi al haqq. Bukan puncah dr kebodohan yang mempercayakan fprmalitas, walaupun dengan mengenakan atribut2 Islami. Padahal baru essensinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *