Terjemah Khutba tentang Ikhlas, Shaykh Mortada, Jumua Mosque, 30 Oktober 2015

14 March 2016

Komentar

0
 March 14, 2016
 0
Terjemah Khutba tentang Ikhlas, Shaykh Mortada, Jumua Mosque, 30 Oktober 2015
Khutba tentang Ikhlas disampaikan Shaykh Mortada di Jumu’a Mosque Cape Town, Jum’at 30 Oktober 2015.
Diterjemah dari naskah aslinya di: http://www.jumuamosquect.com/khutba…
Khutba pertama:
Hamba-hamba Allah, ikhlas adalah hakikat dari deen dan adalah pokok dari da’wa para Rasul alayhi salam. Allah berfirman, yang terjemahnya adalah, “Dan siapakah yang lebih baik deennya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan” (4:125) Dan Ia berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan deen kepada-Nya dalam (menjalankan) fitrah yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah deen yang lurus.” (98:5).
Abu Hurayra meriwayatkan dari Rasulallah salallahu alayhi wassalam, dalam sebuah hadith qudsi dimana Allah berfirman, “Aku tidak memerlukan sekutu apapun. Jika seseorang beramal bukan karena Aku semata tetapi untuk sesuatu selain Aku, Aku akan menyingkirkan orang itu dan amalnya yang menyekutukan sesuatu dengan-Ku itu.”
Terdapat begitu banyak hadith dari Rasulallah salallahu alayhi wassalam yang serupa ini dan menegaskan tentang hal ini.
Salah seorang ulama berkata, “Mereka yang pandai telah meneliti tentang makna ikhlas dan akhirnya mereka menemukan bahwa maknanya bisa dirumuskan menjadi satu hal – yaitu bahwa seluruh gerak dan diamnya seseorang, apakah itu di depan umum atau sendirian, hanyalah bagi Allah semata dan tidak tercemari oleh keinginan-keinginan nafsu atau hasrat atau pertimbangan-pertimbangan duniawi.”
Hamba-hamba Allah, Sahl ibn Abdillah al-Tustari berkata, “Tak ada sesuatu pun yang lebih berat pada nafsu daripada ikhlas, karena nafsu tidak punya bagian apapun padanya.” Memiliki keikhlasan dalam amal ibadah, bahkan sebenarnya memiliki keikhlasan dalam segala yang engkau kerjakan termasuk dalam urusan-urusan yang digolongkan sebagai mubah/diperbolehkan, adalah sesuatu yang luar biasa. Karena melalui ikhlas-lah Allah memberimu suatu yang banyak karena hal yang kecil. Sedangkan bagi mereka yang pamer dan menyisihkan ikhlasnya, Allah tidak akan memberi mereka apapun walaupun begitu penting/besar apa yang mereka lakukan atau mereka berikan. Bisa jadi satu dirham dari yang pertama itu lebih bernilai dari seratus ribu dirham dari jenis yang kedua. Nilai sebuah amal ditentukan oleh nilai apa yang ada dalam qalbu, sesuai derajat keyakinan seseorang dan sejauh apa dia memuliakan Rabb-nya. Itulah rahasia ikhlas yang ditempatkan Allah diqalbu hamba-hamba sejati-Nya.
Hamba-hamba Allah, di sisi lain, kami menyatakan bahwa amal ketaatan pada Allah apapun yang dilakukan tanpa ikhlas, tanpa ketulusan, tidak memiliki nilai apapun dan tidak akan memperoleh balasan apapun. Bahkan, itu bisa saja membukakan sebuah hukuman keras bagi pelakunya, walaupun amal ketaatannya tergolong sesuatu yang besar di hadapan Allah, seperti seseorang mengeluarkan harta untuk sedekah, atau bertempur atau menuntut ilmu deen ini. Perkara ini telah diutarakan dengan jelas dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurayra. Rasulallah salallahu alayhi wassalam berkata, “Orang pertama yang akan dihakimi di Hari Kiamat adalah seseorang yang wafat sebagai seorang (mati) shahid. Ia akan dihadirkan dan dikabari tentang karunia Rabb-nya yang diberikan padanya itu dan dia akan mengetahuinya. Lalu Rabb-nya berfirman padanya, ‘Apa yang telah engkau lakukan sehingga memperolehnya?’ Dan pria itu akan menjawab, ‘Aku bertempur demi Mu semata sehingga aku terbunuh (mati) shahid.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau berbohong. Sebenarnya engkau bertempur agar orang-orang berkata bahwa engkau seorang pemberani dan mereka pun telah menyebut demikian.’ Maka Ia memerintahkan agar orang itu diseret di atas wajahnya dan dilemparkan ke Api. Lalu seseorang yang lain yang menuntut ilmu dan mengajarkan serta membaca Qur’an datang. Ia dihadirkan dan dikabari tentang karunia Rabb-nya yang diberikan padanya dan ia pun mengetahuinya. Lalu Rabb-nya menanyainya, ‘Apa yang sudah engkau lakukan?’ dan ia akan menjawab, ‘Saya belajar dan mengajar ilmu serta membaca Qur’an karena Mu semata,’ Allah berfirman, ‘Engkau berdusta. Sebenarnya engkau belajar supaya orang-orang menyebutmu sebagai seorang alim dan seorang qari dan mereka telah menyebutmu demikian.” Lalu Allah memerintahkan agar orang itu diseret di atas wajahnya dan dilempar ke dalam Api. Kita mohon perlindungan Allah dari yang demikian itu. Lalu datang seseorang lain yang telah dijadikan Allah kaya dan kepadanya Allah memberikan berbagai jenis harta kekayaan. Ia akan dihadirkan dan dikabari tentang karunia Allah padanya dan ia pun mengetahuinya. Lalu Rabb-nya bertanya padanya, ‘Apa yang sudah engkau lakukan?’ dan ia menjawab, ‘Saya telah keluarkan harta saya di setiap jalan yang Engkau sukai harta dikeluarkan.’ Maka Allah berfirman, ‘Engkau berbohong. Sebenarnya engkau melakukan itu agar disebut orang-orang sebagai dermawan dan mereka telah menyebutmu demikian.’ Maka ia memerintahkan agar orang itu diseret di atas wajahnya dan dilemparkan ke Api.
Adalah ikhlas dalam sebuah amal yang menjadikannya bernilai di pandangan Allah, bukan amal itu sendiri, bahkan bukan begitu pula jika amalnya adalah mengeluarkan harta, atau mati shahid atau membaca Qur’an. Semua amal itu haruslah dilaksanakan semata-mata dan setulusnya karena Allah Rabbal Alamin.
Khutba kedua:
Telah dikabarkan bahwa Abu Hamid al-Ghazali suatu kali mendengar bahwa jika seseorang mampu berlaku ikhlas, tulus kepada Allah selama empat puluh hari, sumber-sumber hikmah akan memancar dari qalbunya dan muncul di lidahnya, maka ia berkata, “Saya sudah berlaku ikhlas pada Allah selama empat puluh hari, namun tak ada yang muncul. Maka saya berlaku ikhlas pada Allah selama empat puluh hari lagi dan tetap saja tidak ada yang muncul. Maka saya menyampaikan hal ini kepada salah seorang yang memiliki ilmu perihal batin ini dan ia berkata padaku, ‘Engkau telah berlaku ikhlas agar hikmah bisa mengalir dan muncul di lidahmu, engkau tidak berlaku tulus demi Allah, Rabbal Alamin.’” Allah tidak akan mensia-siakan amal terkecil dan paling sepele apapun yang dilakukan dengan ikhlas.
Rasulallah berkata, “Seseorang dari Umatku akan dipanggil di hadapan seluruh mahluk di Hari Kiamat dan sembilan puluh sembilan lembaran dibeberkan di hadapannya, setiap lembar panjangnya sejauh mata memandang. Lalu dia akan ditanya, ‘Apakah engkau menyangkal satu [dari amal-amal salah ini]? Apakah Para Pencatat-Ku telah menzalimimu dalam satu perkara? Dan dia menjawab, ‘Tidak, Rabb-ku.’ Lalu dia ditanya lagi, ‘Apakah engkau punya alasan apapun atau ada amal salih apapun yang bisa engkau sampaikan?’ dan dia akan menjawab, ‘Tidak ada, Rabb-ku.’ Tetapi akan dikatakan padanya, ‘Sebaliknya. Engkau punya sebuah amal salih. Engkau punya sebuah amal salih. Engkau tidak akan dizalimi hari ini.’ Dan selembar kecil kertas dibawa ke depan, padanya tertulis, ‘Ashhadu an la ilaha illa-llah wa anna Muhammadan abduhu wa rasuluh – Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.’ Maka orang itu bertanya, ‘Wahai Rabb-ku, apakah kertas kecil itu? Apakah kertas kecil itu? Apa yang bisa dilakukannya terhadap seluruh lembaran amal salah ini? Dan dikatakan padanya, ‘Engkau tidak dizalimi hari ini.’ Dan lembaran kertas itu ditempatkan di satu sisi timbangan dan selembar kertas kecil itu di sisi timbangan lainnya, dan kertas kecil itu lebih berat dari semua lembaran tersebut.”
Ibn Uyayna berkata, “Al-Mutarrif ibn Abdillah biasa berkata dalam doanya, ‘Wahai Allah, aku memohon ampunan-Mu atas segala yang telah kulakukan, mengaku bahwa itu semua semata karena wajah-Mu, namun yang sebenarnya qalbuku telah ternodai dan terkotori oleh apa yang Engkau ketahui.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *