Terjemah Khutba tentang Hijra, Shaykh Mortada, Jumu’a Mosque, 16 Oktober 2015

29 February 2016

Komentar

0
 February 29, 2016
 0

Disampaikan oleh Shaykh Mortada di Jumu’a Mosque, Cape Town hari Jum’at tanggal 16 Oktober 2015.

Diterjemah dari naskah aslinya di: http://www.jumuamosquect.com/khutbas/khutba/archive/2015/october/16/article/khutba-on-hijra-2.html
Khutbah pertama:
Bertaqwalah pada Allah, wahai hamba-hamba Allah, dan ikutilah Rasul-mu, yang terbaik dari para Muhajirin, Imamnya para sabirin dan junjungan para Nabi. Mukminin, setiap kali satu tahun baru Hijri tiba, kita diingatkan pada kejadian besar dalam sejarah Islam, yaitu Hijranya penghulu umat manusia dari Makka ke Madina.
Allah mengutus Sayyidina Muhammad salallahu alayhi wassalam sebagai seorang Rasul di saat beliau mencapai usia empat puluh tahun dan menurunkan wahyu kalimat-kalimat berat padanya, kalimat-kalimat berat, yang begitu beratnya sehingga gunung-gunung tidak mampu menahan beratnya, namun qalbu mulianya mampu menampungi kalimat-kalimat itu dan ruhnya yang suci dibersihkan dengan kalimat-kalimat tersebut. Beliau tinggal di Makka selama 13 tahun, menyeru kepada Allah dan bersabar terhadap kejahatan dan hinaan, hingga dakwa pada Islam di Makka telah mencapai apa yang bisa dicapainya dan kebenaran tidak lagi memiliki ruang untuk bergerak. Di saat itulah Allah memberi ijin kepada yang lemah di antara Mukminin melakukan hijra sehingga dakwa Islam bisa bergerak maju menuju sebuah tahap baru, sebuah tahap dengan sifat-sifat dan ciri-ciri di mana Muslimin bersatu, yaitu mereka yang wajah-wajahnya teguh menghadap Allah dan menyerahkan pengaturan urusan-urusan mereka kepada sang penyeru utama dan Imamnya ummat, salallahu alayhi wassalam. Mereka seperti tanah yang subur, siap untuk ditanami benih-benihnya dan bibit-bibitnya. Hukum-hukum diwahyukan dan aturan-aturan mengikutinya, satu demi satu, merawat masyarakat yang baru lahir dan berkembang serta membukakan sebuah halaman baru dalam kitab dakwa, yang berbeda baik pada sifat dan suasananya dari periode Mekkah yang mendahuluinya. Dalam masa ini, cahaya Islam keluar secara terbuka, setelah ia ditutupi oleh musyrikin selama itu.
Madina adalah titik pertemuan bagi mukminin dan tempat perlindungan dan tempat pengungsian bagi Muslimin, dimana mereka mulai berbicara dalam satu suara dan qalbu mereka yang bersatu. Mereka semua adalah saudara dan saudari dalam Allah, setelah dibina oleh Islam menjadi sebuah bentuk baru dan diberikan pengajaran istimewa dan khusus oleh Nabi. Qalbu mereka telah menyatu dan jiwa-jiwa mereka telah berserikat – seakan mereka satu tubuh, tak seorang pun saat itu merasa punya hak lebih pada setiap potong harta dari saudaranya. Pada merekalah di saat itu perwujudan tertinggi yang mungkin dicapai dari rasa cinta dan keinginan mendahulukan dapat dilihat. Rasulallah salallahu alayhi wassalam menyelam dalam-dalam ke dalam dalamnya dunia ini bersama khalayak yang lurus ini, dan bersama mereka memenangi qalbu-qalbu dan benua-benua serta menghancurkan bebatuan dan berhala-berhala. Jiwa-jiwa disucikan dengan tawhid dan kecerdasan akal dinyalakan melalui bimbingan yang lurus. Kebaikan menguasai negeri dan hamba-hamba Allah terbimbing melalui Wahyu. Kitabnya adalah Kitab Allah dan jalannya adalah Jalan Muhammad. Kebenaran tidak menyisakan ruang untuk kebatilan dan petunjuk tidak menyisakan tempat bagi penyimpangan. Bintang-bintangnya para pendeta dan rabbi-rabbi telah padam, dan teori-teori dan tebakan-tebakan para filosof dan dukun-dukun telah rubuh ke sisi jalan. Matahari petunjuk bersinar bagi para pejalan dan kebenaran telah menjadi jelas dan nyata bagi mereka yang mencarinya. Tak ada lagi apakah itu Lata atau Uzza, Kaisar atau Khosroes. Hari telah menyingsing, memenuhi negeri dengan cahaya, dan menghapus tuntas keraguan-raguan dan was-was malam.
Saudara-saudara yang mulia, Hijra-nya Rasulallah bukanlah kejadian biasa-biasa dalam siklus kehidupan dakwah Islam, sebaliknya dialah ibu segala kejadian-kejadian, titik pusat perjuangan antara kebenaran dan kebatilan. Itulah saat dimana dakwah Islam menghadapi bahaya terbesarnya dan berada di posisi penuh resiko, karena pada saat itulah pembela kebatilan membuat keputusan untuk membunuh pembawa Risalah, salallahu alayhi wassalam, untuk menghilangkan dari deen baru ini dukungan dan dasarnya. Namun pada saat rencana makar mereka berada di titik hampir mencapai keberhasilan dan tak ada lagi jalan lain baik itu suatu benda atau mahluk bagi Rasul yang bisa digunakan untuknya menghindar, sebuah mukjizat terjadi dan karunia ilahi datang menghampiri. Dan lihatlah, Rasulallah mampu lolos menembus jaring empat puluh orang pemuda bersenjata lengkap yang berjaga-jaga atas dirinya dan berjumpa Abu Bakr yang telah siap, atas petunjuk Rasulallah menyiapkan rencana-rencana dan persiapan-persiapan bagi perjalanan besar ini. Bersama-sama mereka pergi berjalan dari sebuah tempat di belakang rumah Abu Bakr dan menuju arah selatan bukannya ke utara untuk mengacaukan dan menyesatkan para mushrikun yang mencari mereka. Mereka tinggal selama tiga hari di Gua Thawr, hingga keadaan menjadi tenang dan para mushrikun menyerah dan menghentikan usaha pencariannya.
Rasuallah telah mengusahakan segala sesuatu yang mungkin dilakukannya untuk menjadikan hijra-nya berhasil, dan menggunakan segala sesuatu yang secara manusiawi dimungkinkan baginya. Abdallah ibn Abi Bakr membawa kabar bagi mereka tentang apa yang dilakukan para mushrikun di Makka, Asma ibn Abi Bakr membawakan makanan bagi mereka dan Amir ibn Fuhayra mengaburkan jejak-jejak Abdallah dan Asma dengan membiarkan kawanan ternak berjalan-jalan di atas jejak-jejak itu, dan memberikan susu untuk diminum kepada kedua muhajirun itu. Dan bagi Abdallah ibn Uraqit, walaupun masih mengikuti deen kaumnya, ia tetap menjaga keselamatan Rasulallah dan menggunakan keahliannya tentang jalan-jalan kecil dan jalan-jalan besar untuk membimbingnya sepanjang jalan hijra-nya menuju Madina. Abu Bakr telah sepakat untuk bertemu dengannya di kaki gunung Thawr setelah tiga hari, dan orang ini memenuhi janjinya dan datang membawa dua onta untuk membantu perjalanan kepindahan terbesar dalam sejarah manusia.

Saudara-saudara yang paling baik, kumpulan yang mulia ini berjalan ke arah barat menuju pantai, lalu menuju utara menuju Madina, mempergunakan jalan setapak dan lintasan yang tak pernah digunakan sebelumnya. Pada bagian perjalanan inilah kemuliaan diri dan keluasan ketabahan Rasulallah menjadi terlihat, yakni bagaimana begitu luar biasanya beliau bergantung-bertawakal pada Rabb-nya. Karena beliau tidak bimbang ataupun berpaling dari perjalanannya, dan tetap menutup mata terhadap apapun kecuali dari menatap langit. Dan memang adalah kebenaran baginya untuk tidak lagi melihat ke belakang, karena beliau telah menyiapkan seluruh persiapan semampunya, dan menjadikan persiapannya itu sepenuh dan sebaik-baik mungkin. Tak ada lagi sesuatu apa pun yang dapat dilakukannya sendiri. Pada saat yang sama, Abu Bakr merasakan ketakutan dan keprihatinan yang besar, saat ia berpikir tentang para pengintai yang berada di depan Rasulallah, mencari-carinya, dan tentang mereka yang berada di belakang juga mencari-carinya. Ini bukan karena kurangnya keyakinan pada Allah, atau karena ia memiliki keraguan atas pertolongan Allah yang akan datang, melainkan karena dia ingin memastikan bahwa lehernya-lah yang lebih dekat kepada musuh daripada leher Rasulallah, dan bahwa darahnya-lah yang akan mengucur bukan darah Rasulallah. Itu adalah perwujudan rasa cinta sejati yang dimilikinya terhadap Rasulallah, dan tingkat keprihatinan mendalamnya atas masa depan dakwah dan keamanan Risalah.
Saudara-saudara yang mulia, perjalan hebat ini berlangsung lebih dari sepuluh hari, dan di tiap-tiap hari darinya penduduk Madina selalu pergi ke pinggir kota untuk melihat-lihat kedatangannya kumpulan mulia yang sedang berjalan itu. Dan saat akhirnya mereka melihat Rasulallah, qalbu mereka melumpat kegirangan, karena sebelumnya mereka tidak mengetahui apakah hijra-nya akan berhasil ataupun apakah mereka akan memperoleh keberkahan tinggal bersamanya, ataupun akan merasakan kemuliaan pertolongan dan Risalahnya, ataukah takdir menetapkan bahwa mereka senantiasa terpisah dan bahwa beliau terhenti dalam perjalanannya, yang berarti bahwa mereka akan kembali pada cara hidup jahiliyah yang menyimpang itu dan peperangan antar suku selama-lamanya. Tetapi begitu kumpulan pejalan penuh kemenangan itu terlihat dan menjadi jelas dari fatamorgana yang ada, maka ketentraman kembali ke dalam qalbu mereka, kegembiraan tertampak pada wajah mereka dan harapan tumbuh kembali bermunculan. Cahaya-cahaya bersinaran dari seluruh penjuru Madina, tiap-tiap segala benda yang berada di kota itu mengeluarkan cahaya, karena ketibaan Rasulaallah, datangnya kekasih Allah dan inilah harapan sebuah masa depan bersama Allah.
Saudara-saudara, ketika Rasulallah memasuki benteng Madina dan negeri keberhasilannya, tak ada seorang pun yang akan terkejut jika hal pertama yang beliau bicarakan adalah tentang kesukaran yang telah dialaminya dalam perjalanan hijra-nya, ataupun tentang apa yang telah dicoba lakukan oleh para mushrikun di Makka padanya. Namun demikian atas berbagai apa yang telah terjadi pada beliau itu, maka hal pertama yang beliau katakan adalah, “Wahai khalayak, sebarkan Islam dan beri makan orang-orang, jagalah hubungan kekeluargaan dan salat-lah di waktu malam ketika orang-orang tidur. Jika kalian melaksanakannya, kalian akan memasuki Taman dengan selamat.” Inilah insan yang paling mulia, yang ruhnya disucikan, inilah rahmat yang dijanjikan kepada kita dari Rabb-nya para hamba.
Saya berlindung kepada Allah dari shaytan yang terkutuk. “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
Khutbah kedua:
Saudara-saudara yang mulia, Allah berfirman tentang hijra ini dalam Kitab-Nya Yang Mulia, yang terjemahnya adalah, “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (mushrikin Makka) mengeluarkannya (dari Makka) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Ia menjadikan kalimat orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Dan Rasulallah salallahu alayhi wassalam berkata, “Saya bermimpi bahwa saya akan berhijra dari Makka ke sebuah negeri yang penuh pohon kurma, dan saya berpikir bahwa itu pastilah al-Yamama, namun lihatlah, itu ternyata Yathrib.”
Saudara-saudara terkasih, adalah lutf dari Rabb yang telah melindungi dakwah Islam sejak dari awalnya. Bagaimana pun bentuk kesukaran dan ujian yang dihadapinya, bagaimana pun penyiksaan dan usaha menghapuskannya, Islam tak pernah terhapus bahkan senantiasa kokoh dan kuat sehingga saatnya Allah memberikan ijin hijra dilaksanakan ke Madina. Hijra ini menghadirkan sebuah fajar baru untuk Dakwah, sebuah kemenangan besar bagi Islam dan Muslimin. Menjadi sebuah kewajiban bagi setiap Muslim yang benar untuk mencuci bersih tangannya (meninggalkan) dari negeri kufr dan shirk dan melaksanakan perjalanan menuju negeri Islam di Madina. Beberapa orang telah meraihi kemuliaan ini di tangannya dan yang lain telah luput dari kesempatan ini, karena kesempurnaan melaksanakan hijra dari Makka ke Madina telah diakhiri dengan penaklukan Makka. Dari sejak itu selanjutnya, janji ketaatan (bay’at) adalah didasarkan pada jihad dan Islam, [bukan hijra], karena Rasulallah salallahu alayhi wassalam berkata, “Tak ada lagi hijra setelah penaklukan, hanya jihad dan niat.”
Rasulallah salallahu alayhi wassalam mulai memberikan perintah kepada mukminin yang menginginkan tangan mereka meraihi balasan dari berhijra untuk sebaiknya beramal salih, dengan berkata, “Muslim adalah dia yang Muslim lainnya aman dari lidah dan tangannya, dan muhajir (dia yang hijra) adalah dia yang meninggalkan apa yang dilarang Allah baginya.” Dan ketika beliau salallahu alayhi wassalam, ditanya tentang jenis hijra apakah yang terbaik, beliau salallahu alayhi wassalam menjawab, “Meninggalkan (secara artinya melakukan hijra dari) apa yang telah ditinggalkan (dilarang) Rabb-mu.”
Bertaqwalah, wahai khalayak, dan putuskanlah hubungan dengan apa yang telah diperintahkan oleh Rabb-mu untuk diputuskan hubungannya – amal-amal ketidaktaatan dan perkara-perkara yang tidak disukai, dan peliharalah hubungan dengan apa yang telah diperintahkan Allah untuk dihubungkannya – amal-amal salih dan perkara-perkara yang disukai. Apa masalahnya dengan khalayak yang tidak mau mengikuti petunjuk dan tidak mau melihat dan tidak mau peduli? Seakan-akan mereka diciptakan tanpa maksud apa pun dan diminta melakukan hal yang banyak. Mereka tidak mau memutuskan dengan apa yang salah atau menyambungkan dengan apa yang salih. Mereka bahkan gagal untuk memutuskan dirinya dari satu hasrat atau menyapih/menghentikan diri mereka dari sebuah kesenangan. Dan selanjutnya, setelah semua itu, mereka tidak merasakan sedikit pun rasa malu atau rasa jengah dalam mengharapkan berbagai hal dari Allah, sedangkan para muhajirun dan mujahid dari Sahabat Rasulallah salallahu alayhi wassalam hanya menginginkan untuk meninggalkan dunia ini di belakang, dan bukan untuk mereka miliki. Bahkan benar, bahwa banyak dari mereka wafat dengan kebutuhan dan hasrat mereka tersimpan di dalam qalbu mereka dan tak terpenuhi namun begitu mereka lebih takut pada Rabb mereka dari pada kita ini. Tiada daya dan kekuatan selain Allah.
Bertaqwalah, wahai khalayak, dan kenalilah nilai diri-dirimu. Dan walau pun nyatanya kalian telah luput dari balasan hijra ke Madina, janganlah luput dari balasan melakukan hijra dari amal-amal salah kepada amal-amal salih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *