Shaykh Abdalqadir as sufi Sambut Dirham Kesultanan Bintan Darul Masyhur

8 November 2014

Komentar

1
 November 8, 2014
 1
SAQ Dirham Bintan
Kategori Artikel

Udara Cape Town, seperti biasa di bulan Oktober, masih terasa sejuk, meski musim kemarau telah tiba. Hari itu, Rabu, 15 Oktober 2014, di halaman belakang Dallas House, sebuah rumah di kawasan Constantia, Cape Town, tengah berlangsung pertemuan antara delegasi fuqara Indonesia dengan Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi. Delegasi Indonesia semuanya ada delapan orang, enam pria, yaitu Amir Zaim Saidi, Amir Rizal Moeis, Irawan Santoso Siddiq, Ardhi Harahap, Emil W Aulia, dan Muqadim Malik Abdalhaq H, sedang dua wanitanya, para faqirah, yaitu Ibu Dini Soekandar dan Bu Isnaini Angkasa.

Pada kesempatan itu kepada Shaykh Dr Abdalqadir, Amir Zaim menyerahkan tiga buah buku, yakni terjemahan bahasa Indonesi a dari kitab Sultaniyya, karya Shaykh Abdalqadir sendiri, buku Di Ambang Runtuhnya Demokrasi, dan buku Sesat Di Ujung Jalan, Balek Ke Pangkal Jalan, yang merupakan “laporan” perkembangan penerapan muamalah dan penegakkan rukun zakat di Kesultanan Bintan Darul Masyhur. Shaykh Abdalqadir menyimak dengan seksama.

“Anda telah menjalankannya dengan dasar-dasar yang benar,” ucapnya dengan nada gembira. Kepada Shaykh Abdalqadir, Amir Rizal Moeis, kemudian menyerahkan sebuah kotak kayu, berisikan sekeping Dirham Bintan Darul Masyhur.

Shaykh Dr. Abdalqadir as Sufi menatap tajam koin Dirham perak itu. Dibacanya dengan sesama identitas yang tertera di atasnya, tertulis di sana: “Sultan Haji Huzrin Hood, Kesultanan Bintan Darul Masyhur.” Koin perak mungil berdiameter sekitar 2.2 mm dalam genggaman tangannya itu kemudian diciumnya dalam-dalam untuk beberapa saat lamanya.

“Ini capaian yang sangat penting,” ujar Shaykh Abdalqadir as Sufi, yang menekankan pentingnya menerapkan Dinar dan Dirham dalam cara yang benar, yakni untuk kegiatan muamalah dan pembayaran zakat. Beliau menyambut dengan sangat gembira perkembangan yang telah berlangsung di Indonesia, khususnya di Kesultanan Bintan Darul Masyhur, sebagaimana disampaikan di atas. Di sisi lain, Shaykh Abdalqadir menegaskan bahwa penyimpangan dalam penggunaan Dinar emas dan Dirham perak, yakni memperlakukannya sebagai alat investasi, dan memperdagangkannya, layaknya “frenchise ayam goreng”, harus dicegah dan dihentikan.

Dirham Kesultanan Bintan ini diluncurkan tanggal 6 September 2014, lalu.  Tanggal 15 Oktober 2014, Shaykh Abdalqadir as sufi, terlihat begitu tawadhu, mencium Dirham Kesultanan Bintan Darul Masyhur.

Selanjutnya Shaykh Abdalqadir menasehatkan agar para fuqara terus bekerja sama, mendukung, dan bahu-mebahu dengan Shaykh Umar Ibrahim Vadillo, yang berada di barisan terdepan dalam gerakan muamalat di dunia Islam saat ini. Shaykh Umar Vadillo saat ini berada di Lahore, dan tengah mengajak umat Islam di Pakistan, untuk menerapkannya.
“Sampaikan salam saya buat Sultan,” Shaykh Abdalqadir as Sufi berpesan kepada Amir Rizal Moeis.

Untuk melengkapkan segala yang sudah dijalankan ini, Shaykh Abdalqadir berpesan, agar di Kesultanan Bintan Darul Masyhur, segera didirikan sebuah masjid. Ini agar setelah mumalahnya berjalan dengan benar, ibadahnya pun berlangsung dengan benar, mengikuti jalannya ‘amal Ahlul Madinah, yakni generasi salaf di Madinah al Munawwarah.

Untuk itu Shaykh Abdalqadir akan segera mengirim ulama dan hafidz Qur’an ke Kesultanan Bintan Darul Masyhur. Semoga Allah SWT memudahkan urusan ini.

 

One response on “Shaykh Abdalqadir as sufi Sambut Dirham Kesultanan Bintan Darul Masyhur

  1. Anak Melayu says:

    Semoga jaya lah selalu kesultanan Bintan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *